Whitney Houston - One Moment in Time .mp3
Found at bee mp3 search engine

Sabtu, 01 Oktober 2011

Mengenal Oei Tiong Ham (6), Akhir Tragis Sang Taipan


Kematian Oei Tiong Ham sampai saat ini masih dinilai janggal oleh orang-orang terdekatnya. Terutama putri kesayangannya Oei Hui Lan dari istri pertamanya Goei Bing Nio. Hui Lan mencurigai Luci Ho , selir bapaknya, yang telah meracuni Tiong Ham. Di luar keluarga resminya itu, Tiong Ham memang memiliki banyak selir, konon jumlahnya mencapai 18 selir.
Cerita ini ada dalam buku autobiografi Hui-lan, No Feast Lasts Forever (Tak Ada Pesta yang Tak Berakhir). Saat itu Hui Lan melihat pembangunan villa miliknya di Singapura yang memasuki tahap akhir. Pada waktu itulah Oei Tiong Ham diramal oleh seorang India. Kata orang itu, akan ada musuh yang meracuni Oei Tiong Ham.
Hui Lan khawatir dan mengajak ayahnya meninggalkan Singapura. Tapi Oei Tiong Ham menolak, saat perpisahan di pelabuhan, Oei Tiong Ham sempat berkata pada Hui Lan, “Hui Lan, aku lelah.“.
Hui Lan merasa sedih mendengar perkataan Ayahnya. Hui Lan sama sekali tak menyangka bahwa kalimat itu adalah perkataan terakhir dari Oei Tiong Ham untuk dirinya. Setelah tiga bulan, Hui Lan menerima kawat dari Tjong Swan. Oei Tiong Ham meninggal dunia. Kabar yang dia terima, ayahnya meninggal mendadak akibat serangan jantung pada 6 Juni 1924.
Ketika jenazah masih di Singapura, Hui Lan sempat meminta otopsi. Namun peraturan di sana mengharuskan permintaan otopsi berasal dari pihak istri. Sedangkan Goei Bing Nio, ibu Hui Lan, bahkan tidak bersedia menghadiri upacara pemakaman baik di Singapura maupun di Semarang. Hubungan Bing Nio dan Tiong Ham memang sudah tidak baik sejak Tiong Ham banyak mengambil selir.
Setelah itu, mirip judul buku Hui-lan, Tak Ada Pesta yang Tak Berakhir, kerajaan bisnis Tiong Ham memudar. Kekayaannya dibagi-bagi untuk Goei Bing Nio 12 juta USDollar, Tjong Lan putri sulungnya mendapatkan hanya 1 juta US Dollar, dan Oei Hui Lan mendapatkan 15 juta US Dollar.
Sementara perusahaan peninggalan Oei Tiong Ham dibagi tiga antara dua anaknya Tjong Hauw dan Tjong Swan serta selir Lucy Ho. Belakangan Tjong Swan menjual bagiannya itu kepada Lucy Ho dan pindah ke Belanda. Lucy Ho sendiri menurut kabar yang didengar Hui Lan, meninggal di Swiss akibat kanker. Swan meninggal akibat infeksi gigi yang ditelantarkan. Sementara Hauw meninggal di Jakarta karena serangan jantung tahun 1951. Hui Lan sendiri meninggal dunia tahun 1992, di Amerika.
Selain itu 6 putra lainnya mendapatkan saham di beberapa anak perusahaannya dan 33 anak lainnya mendapat jaminan sosial seumur hidup bersama dengan gundik gundiknya yang lain. Keputusan itu menimbulkan percekcokan bagi anak anak yang hanya mendapat jaminan sosial seumur hidup. Setelah melalui gugatan melalui pengadilan, akhirnya setiap anak mendapatkan 400.000 Gulden.
Namun kekayaan Oei Tiong Ham akhirnya habis, sebagian di masa penjajahan Jepang dan hancur di masa Presiden Soekarno. Perusahaannya dianggap memiliki aset saham bekerja sama dengan Belanda sehingga dalam proses nasionalisasi aset asetnya di ambil alih secara paksa oleh pemerintah RI. (*)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar