Whitney Houston - One Moment in Time .mp3
Found at bee mp3 search engine

Sabtu, 01 Oktober 2011

Mengenal Oei Tiong Ham (2), Indahnya Istana Balekambang


Keberhasilan Tiong Ham disebabkan oleh kepandaiannya menjalin hubungan baik dengan para penguasa kolonial Belanda. Ketokohannya membuat pemerintah Belanda mempercayakan gelar Mayoor der Chinezen kepadanya. Ia pun diijinkan menempati rumah di luar areal pecinan seperti yang ditentukan dan memotong kuncir rambut (taochang).
Dua istananya sangat megah dan terkenal. Istana utama di Gergaji terkenal sangat luas, sedangkan istana yang berada di Simongan dikenal dengan keindahan pemandangannya. Istana di gergaji mempunyai luas areal sekitar 200 acre atau sekitar 81 hektar. Membentang dari Simpanglima, Jalan Pandanaran, Randusari, Mugas, Jalan Pahlawan termasuk kompleks Gubernuran dan Polda Jateng, wilayah Gergaji hingga Jalan Kyai Saleh.
Gedung intinya seluas 9,2 hektar, memiliki 200 ruangan, dapur, vila pribadi, 2 paviliun besar dan kebun binatang pribadi. Ia memiliki 40 pembantu dan 50 tukang kebun. Uniknya dia membangun tempat beribadah khusus untuk para pembantunya.
Istana ini merupakan landmark bagi masyarakat Semarang pada sekitar permulaan abad ke 20 hingga paruh abad ke 20. Masyarakat setempat menyebutnya Istana Oei Tiong Ham atau Istana Gergaji. Masyarakat juga menyebutnya sebagai Kebon
Rojo karena Tiong Ham banyak memelihara hewan hingga mirip kebun binatang. Disebut juga Taman Bale Kambang karena di kompleks istana ada kolam-kolam ikan yang diatasnya dibangun bale atau gazebo untuk beristirahat. Nama Bale Kambang kini masih dipakai sebagai nama perkampungan di bekas lokasi tersebut.
Keindahan kompleks rumah Oei Tiong Ham menarik perhatian masyarakat. Banyak penumpang kapal yang berlabuh di Semarang menyempatkan diri untuk berkunjung. Tiong Ham juga memberi kesempatan kepada masyarakat untuk menikmati taman indah di rumahnya itu pada akhir pekan dan hari besar.
Menurut catatan, rumah tersebut bukanlah rumah yang di bangun oleh Oei Tiong Ham tetapi pemilik semula adalah tuan Hoo Yam Loo, seorang pedagang Tionghoa kaya raya yang mendapat hak monopoli dalam perdagangan candu (opium pachter) dari pemerintah kolonial Belanda. Tetapi dalam perjalanan waktu, pedagang tersebut mengalami kerugian besar sehingga dinyatakan bangkrut. Semua harta benda disita untuk kemudian dilelang termasuk gedung besar tersebut.
Dalam pelelangan sekitar tahun 1883 rumah tersebut jatuh ke tangan Oei Tjie Sien, ayah Tiong Ham. Sayang tak ada catatan tahun berapa bangunan gedung tersebut dibangun tetapi diperkirakan sekitar seperempat abad ke 19. Pada sekitar tahun 1888 Oei Tiong Ham yang pada waktu itu berusia sekitar 22 tahun pindah menempati rumah yang terletak di jalan Gergaji (kini jalan Kyai Saleh) tersebut.
Pada saat Tiong Ham memutuskan pindah, masyarakat Tionghoa merasa sangat heran dan kagum atas keberaniaanya untuk melawan hukum yang berlaku pada waktu itu. Maklum, saat itu masih berlaku peraturan Wijkenstelsel dimana orang-orang Tionghoa tidak diperbolehkan bertempat tinggal di luar daerah yang telah ditentukan oleh pemerintah kolonial Belanda, semisal daerah pecinan. Sedang rumah tersebut terletak di daerah pemukiman orang-orang Belanda.(*)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar