Whitney Houston - One Moment in Time .mp3
Found at bee mp3 search engine

Jumat, 24 Agustus 2012

AIDS = HOAX?   
 
Pecandu narkoba yang tertular HIV pasti direkomendasikan untuk mengkonsumsi ARV (antiretroviral) secara teratur. Moksay (nama samaran) sudah mengonsumsi ARV selama 5 tahun. Dia merasa hidupnya bergantung pada obat ARV, dan suka parno kalau terlambat minum ARV.

Ditengah kegusarannya, dia mencoba berobat alternatif (herbal). Walau sempat ragu, namun dia pasrah saja dan mencoba pengobatan tersebut dan sama sekali tak lagi mengonsumsi ARV karena baginya pengobatan herbal tak ada efek samping.

Menurut aturan medis, keputusan yang diambil Moksay dibilang nekat. Bagaimanapun juga ARV sudah dipercaya sebagai obat yang mampu menekan jumlah virus dalam darah penderita HIV/AIDS. Tapi menurut para penyangkal AIDS (AIDS Denialist) menuding bahwa virus ini adalah sebuah kebohongan. Walau menerima eksistensi AIDS, mereka yakin bahwa virus tersebut bukan penyebab AIDS. Gejala AIDS yang timbul menurut mereka diakibatkan kombinasi dari penggunaan narkoba, kekurangan gizi, sanitasi yang buruk, dan efek samping ARV. Selain mengkritik kaitan antara HIV dan AIDS, para AIDS denialist juga mempromosikan pengobatan alternatif sebagai penyembuhan yang jitu daripada ARV. Mereka membangkang dari pemeriksaan medis dan memusuhi industri farmasi ilmiah.

Di banyak negara, banayk ilmuwan yang tergabung dalam AIDS denialist. Salah satunya yang berpengaruh adalah Peter Duesberg, Profesor Biologi Molekular dan Sel di University of California yang sejak tahun 1987 membantah buktik ilmiah yang menyebutkan HIV adalah penyebab AIDS. Ilmuwan lainnya adalah David Rasnick dan Harvey Bialy. 

Di Indonesia, komunitas AIDS denialist belum terlihat, tetapi sedikit-sedikit digerakkan oleh penggiat pengobatan alternatif. Di Indonesia orang yang positif HIV tanpa banyak cingcong langsung mengonsumsi ARV. Sedangkan diluar negeri, penderitanya kritis, sehingga sering terjadi perselisihan antara pro pengobatan ARV dan anti ARV.

Belum lagi rekomendasi medis yang selalu mendorong pengguna narkoba suntik dan  penderita penyakit menular seksual (PMS) untuk tes HIV. Padahal di luar negeri, pengguna narkoba yang kesehatannya merosot tidak langsung diminta untuk tes HIV melainkan dicari penyebab lainnya terlebih dahulu. Parahnya lagi, tes HIV di Indonesia standar dilusinyan paling banter 1:30, sementara diluar negeri 1:400. Sehingga mereka yang diperiksa darahnya disini rentan dicap positif HIV (false positive).

Setidaknya, ada lebih dari 60 kondisi penyakit yang bisa mengakibatkan false positive jika seseorang melakukan tes HIV dengan standar dilusi 1:30 seperti gagal ginjal, herpes simplex, hepatitis B, malaria, sariawan, kanker ganas, lupus, lepra, flu, TBC, sirosis akut. namun jika diperiksa dengan ts dilusi 1:400 maka hasilnya negatif. 

Agus Sunandar, ahli pengobatan tradisional Yasar Nurma Foundation pernah menemukan seorang ibu tua berusia 58 tahun yang mulutnya sariawan, tapi begitu tes HIV langsung divonis positif dan tiba-tiba langsung diruruh minum ARV seumur hidup. Dan setelah dianalisis, trnyata sariawan tersebut berasal dari asam lambungnya yang naik karena sering memakan mie instan.

Para AIDS denialist pada dasarnya tidak menyangkal virus HIV sebelum bisa dibuktikan HIV itu seperti apa. Mereka tidak setuju dengan anggapan kalau HIV ituada di dalam tubuh. Menurut mereka itu adalah virus lain, jamur, dan sel-sel kanker yang tidak membutuhkan ARV, karena penemu virus HIV Luc Montagnier berkata atasi virus ini dengan nutrisi yang baik. 

Belakangan ini di Indonesia beredar ramuan buah merah dan yang terkini adalah jus kulit manggis yang diklaim mampu menyembuhkan HIV/AIDS secara tuntas. Bahkan produsennya mengklaim penderita HIV/AIDS yang hampir mati, setelah mengonsumsinya secara teratur sanggup brmain futsal lagi.

Namun, Dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional dalam wawancaranya dengan majalah FHM Indonesia, menyatakan bahwa dia belum menemukan ada kasus AIDS sembbuh dengan pengobatan alami. Dia mengatakan bahwa beberapa waktu lalu gencar pemanfaatan buah merah yang dikatakan mampu menyembuhkan AIDS. Lalu ada seorang pasien yang meyakini bisa sembuh dengan buah merah serta meninggalkan ARV dan obat TBC nya. Akhirnya penderita tersebut meninggal sebulan kemudian.

Dia juga membenarkan bahwa HIV bisa lenyap dengan sendirinya di tubuh seperti yang diungkapkan Luc Montagnier. Namun ahal tersebut ada syaratnya, asal jumlah virus kecil dan tidak termasuk sub tipe yang ganas. Namun yang kebanyakan terjadi tidak seperti itu. Contoh melakukan hubungan seks berisiko berkali-kali dan begadang, mabuk-mabukan. Pola hidup yang demikian membuat daya tahan tubuh terus menurun dan hancur. Hanya bagi mereka yang menjaga pola hidup sehat dan imunitas yang baik maka HIV akan hilang dengan sendirinya dalam tubuh dan bebas dari konsmsi ARV. Tapi jika pasien yang dinyatakan sembuh tidak menjaga pola hidupnya, maka virus hIV akan kembali lagi
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar