Whitney Houston - One Moment in Time .mp3
Found at bee mp3 search engine

Sabtu, 24 September 2011

7 hukum alam semesta


1. Hukum Sebab Akibat
Hukum ini merupakan hukum kehidupan yang fundamental. Segala sesuatu yang terjadi pada diri kita memiliki sebab khusus. Pemikiran adalah sebab, dan kondisi adalah akibatnya. Maka apapun pemikiran yang Anda tebarkan akan berkulminasi pada suatu tindakan yang menimbulkan akibat. Inilah padanan mental dari hukum fisika Newton bahwa “setiap aksi akan menimbulkan reaksi yang sebanding dan berkebalikan”, dan hukum ini berlaku dengan prinsip yang sama.

Karena hukum alam tidak bisa dipastikan, maka penting bagi Anda untuk mengingat apa yang Anda inginkan dan bukan apa yang tidak Anda inginkan. Kualitas berbagai hubungan, misalnya, merupakan hasil dari apa yang telah Anda tebarkan dalam hubungan-hubungan tersebut.

2. Hukum Daya Tarik
Apa yang secara dominan Anda pikirkan akan menarik orang-orang dan lingkungan yang harmonis dengan pikiran-pikiran itu ke dalam kehidupan (seperti yang dikatakan dalam Law of Attraction). Secara metafisik, makin besar vibrasi yang Anda keluarkan, makin besar daya tariknya. Proses ini mirip dengan Hukum Resonansi.

Anda selalu menarik semua hal yang Anda pikirkan, baik itu positif maupun negatif. Akal sehat senantiasa mengatakan apa yang sebaiknya Anda kerjakan, meskipun seringkali terdapat kesepakatan yang mencegah Anda untuk melakukannya.

3. Hukum Kreativitas
Di luar dua energi interaktif, yin dan yang, jantan dan betina, muncul energi yang ketiga. Terdapat pasokan ide yang melimpah ruah, yang siap untuk Anda ubah, dan seluruhnya secara dramatis akan mengembangkan potensi, kebahagiaan, dan sukses Anda. Segala hal yang tercipta di dunia ini adalah hasil interaksi kedua energi yang saling bertentangan, tapi saling melengkapi. Keduanya berada dalam diri kita, tapi hanya akan efektif jika dimanfaatkan dan diseimbangkan.

4. Hukum Substitusi
Anda tidak bisa sekadar berhenti melakukan sesuatu. Keinginan kuat atau ketetapan hati sebesar apapun tidak akan tahan dengan kekosongan atau kevakuman yang terjadi terus- menerus. Untuk menghentikan suatu kebiasaan atau sikap, Anda mesti mencari penggantinya. Gantikan pemikiran tentang apa yang tidak Anda inginkan dengan pemikiran tentang apa yang Anda inginkan. Tidak ada sesuatu yang bisa menghilang sama sekali: sesuatu tersebut harus digantikan atau disalurkan ulang dengan substitusi.

5. Hukum Pelayanan
Berhentilah melayani orang lain dengan cara yang sebenarnya tidak Anda inginkan, karena imbalan yang Anda peroleh akan selalu sama dengan pelayanan Anda. Memberi perlakuan kepada orang lain di balik meja dengan cara yang sama dengan di depan meja, pada akhirnya akan berlangsung dengan prinsip yang sama. Anda akan selalu diimbali dengan proporsi yang persis sama dengan nilai dari layanan Anda kepada orang lain.

6. Hukum Penggunaan
Kekuatan alami apapun, bakat atau talenta, akan mengalami kemandekan jika tidak digunakan. Sebaliknya, akan menjadi semakin kuat jika makin sering dimanfaatkan. Ilustrasi yang sangat baik digambarkan dalam kisah seorang tua yang memperlihatkan kepada Rossetti, si pelukis terkenal, beberapa lukisan yang baru saja dibuatnya pada masa pensiun. Rossetti dengan sopan menjawab bahwa lukisan-lukisan itu biasa-biasa saja. Si lelaki tua kemudian memperlihatkan beberapa lukisan lain yang dibuat oleh seseorang yang lebih muda. Rossetti langsung memuji dan mengatakan bahwa di pelukis ini tentu sangat berbakat. Melihat orang tua itu memperlihatkan gejolak emosi, Rossetti pun bertanya apakah yang melukis itu anaknya. “Bukan. Itu lukisan saya sendiri sewaktu muda. Tapi saya tergoda untuk melakukan hal yang lain dan melupakan bakat melukis saya”, jawab si lelaki tua.

Bakat si lelaki tua telah melenyap. Manfaatkanlah, atau Anda akan kehilangan kekuatan alami itu.


7. Hukum Tujuh
Urut-urutan kejadian berjalan mengikuti Hukum Tujuh atau Hukum Oktaf. Saat not atau nada dasar dimainkan, setiap not diulang bunyinya beberapa kali dan kemudian menghilang intensitasnya. Hukum Tujuh berarti bahwa tidak ada kekuatan yang terus-menerus bekerja dengan arah yang sama. Setiap kekuatan bekerja dalam kurun waktu tertentu, kemudian menghilang intensitasnya, lalu berubah arah atau mengalami perubahan internal.

Tidak satu pun di alam ini yang berkembang mengikuti garis yang lurus. Dan demikian pula dengan kehidupan Anda. Tapi setelah Anda bisa menyesuaikan diri dengan prinsip-prinsip itu, Anda mengalir mengikuti arusnya, bukannya berlawanan.

Hukum Tujuh memperlihatkan bahwa tak ada satu pun kekuatan yang cuma berkembang ke satu arah, dan bahwa energi terus berkembang bahkan di tengah rintangan dan interval. Sebagaimana oktaf, segala sesuatu dalam kehidupan ini berjalan dengan vibrasi. Tanpa vibrasi takkan ada gerakan, dan dengan demikian tak ada aktivitas yang bisa berjalan dengan cara apa pun juga.

Jumat, 23 September 2011

Kisah cinta kupu-kupu

Di sebuah kota kecil yang tenang dan indah, ada sepasang pria dan wanita yang saling mencintai. Mereka selalu bersama memandang matahari terbit di puncak gunung, bersama di pesisir pantai menghantar matahari senja. Setiap orang yang bertemu dengan mereka tidak bisa tidak akan menghantar dengan pandangan kagum dan doa bahagia. Mereka saling mengasihi satu sama lain.
Namun pada suatu hari, malang sang lelaki mengalami luka berat akibat sebuah kecelakaan. Ia berbaring di atas ranjang pasien beberapa malam tidak sadarkan diri di rumah sakit. Siang hari sang wanita menjaga di depan ranjang dan dengan tiada henti memanggil-manggil kekasih yang tidak sadar sedikitpun.
Malamnya ia ke gereja kecil di kota tersebut dan tak lupa berdoa kepada Tuhan agar kekasihnya selamat. Air matanya sendiri hampir kering karena menangis sepanjang hari.
Seminggu telah berlalu, sang lelaki tetap pingsan tertidur seperti dulu, sedangkan si wanita telah berubah menjadi pucat pasi dan lesu tidak terkira, namun ia tetap dengan susah payah bertahan dan akhirnya pada suatu hari Tuhan terharu oleh keadaan wanita yang setia dan teguh itu, lalu Ia memutuskan memberikan kepada wanita itu sebuah pengecualian kepada dirinya. Tuhan bertanya kepadanya, “Apakah kamu benar-benar bersedia menggunakan nyawamu sendiri untuk menukarnya?” Si wanita tanpa ragu sedikitpun menjawab, “Ya.”
Tuhan berkata, “Baiklah, Aku bisa segera membuat kekasihmu sembuh kembali, namun kamu harus berjanji menjelma menjadi kupu-kupu selama tiga tahun. Pertukaran seperti ini apakah kamu juga bersedia?” Si wanita terharu setelah mendengarnya dan dengan jawaban yang pasti menjawab, “Saya bersedia!”
Hari telah terang. Si wanita telah menjadi seekor kupu-kupu yang indah. Ia mohon diri pada Tuhan lalu segera kembali ke rumah sakit. Hasilnya, lelaki itu benar-benar telah siuman bahkan ia sedang berbicara dengan seorang dokter. Namun sayang, ia tidak dapat mendengarnya sebab ia tak bisa masuk ke ruang itu.
Dengan disekati oleh kaca, ia hanya bisa memandang dari jauh kekasihnya sendiri. Beberapa hari kemudian, sang lelaki telah sembuh. Namun ia sama sekali tidak bahagia. Ia mencari keberadaan sang wanita pada setiap orang yang lewat, namun tidak ada yang tahu sebenarnya sang wanita telah pergi ke mana. Sang lelaki sepanjang hari tidak makan dan istirahat terus mencari. Ia begitu rindu kepadanya, begitu inginnya bertemu dengan sang kekasih, namun sang wanita yang telah berubah menjadi kupu-kupu bukankah setiap saat selalu berputar di sampingnya?
Hanya saja ia tidak bisa berteriak, tidak bisa memeluk. Ia hanya bisa memandangnya secara diam-diam. Musim panas telah berakhir, angin musim gugur yang sejuk meniup jatuh daun pepohonan. Kupu-kupu mau tidak mau harus meninggalkan tempat tersebut, lalu terakhir kali ia terbang dan hinggap di atas bahu sang lelaki.
Ia bermaksud menggunakan sayapnya yang kecil halus membelai wajahnya, menggunakan mulutnya yang kecil lembut mencium keningnya.
Namun tubuhnya yang kecil dan lemah benar-benar tidak boleh diketahui olehnya, sebuah gelombang suara tangisan yang sedih hanya dapat didengar oleh kupu-kupu itu sendiri dan mau tidak mau dengan berat hati ia meninggalkan kekasihnya, terbang ke arah yang jauh dengan membawa harapan.
Dalam sekejap telah tiba musim semi yang kedua, sang kupu-kupu dengan tidak sabarnya segera terbang kembali mencari kekasihnya yang lama di tinggalkannya.
Namun di samping bayangan yang tak asing lagi ternyata telah berdiri seorang wanita cantik. Dalam sekilas itu sang kupu-kupu nyaris jatuh dari angkasa. Ia benar-benar tidak percaya dengan pemandangan di depan matanya sendiri. Lebih tidak percaya lagi dengan omongan yang dibicarakan banyak orang. Orang-orang selalu menceritakan ketika hari natal, betapa parah sakit sang lelaki. Melukiskan betapa baik dan manisnya dokter wanita itu. Bahkan melukiskan betapa sudah sewajarnya percintaan mereka dan tentu saja juga melukiskan bahwa sang lelaki sudah bahagia seperti dulu kala .
Sang kupu-kupu sangat sedih. Beberapa hari berikutnya ia seringkali melihat kekasihnya sendiri membawa wanita itu ke gunung memandang matahari terbit, menghantar matahari senja di pesisir pantai. Segala yang pernah dimilikinya dahulu dalam sekejap tokoh utamanya telah
berganti seorang wanita lain, sedangkan ia sendiri selain kadangkala bisa hinggap di atas bahunya, namun tidak dapat berbuat apa-apa.
Musim panas tahun ini sangat panjang, sang kupu-kupu setiap hari terbang rendah dengan tersiksa dan ia sudah tidak memiliki keberanian lagi untuk mendekati kekasihnya sendiri, karenanya sebelum musim panas berakhir, sang kupu-kupu telah terbang berlalu. Bunga bersemi dan layu. Bunga layu dan bersemi lagi. Bagi seekor kupu-kupu waktu seolah-olah hanya menandakan semua ini.
Musim panas pada tahun ketiga, sang kupu-kupu sudah tidak sering lagi pergi mengunjungi kekasihnya sendiri. Sang lelaki bekas kekasihnya itu mendekap perlahan bahu si wanita, mencium lembut wajah wanitanya sendiri. Sama sekali tidak punya waktu memperhatikan seekor kupu-kupu yang hancur hatinya apalagi mengingat masa lalu.
Tiga tahun perjanjian Tuhan dengan sang kupu-kupu sudah akan segera berakhir dan pada saat hari yang terakhir, kekasih si kupu-kupu melaksanakan pernikahan dengan wanita itu.
Dalam kapel kecil telah dipenuhi orang-orang. Sang kupu-kupu secara diam-diam masuk ke dalam dan hinggap perlahan di atas pundak Tuhan. Ia mendengarkan sang kekasih yang berada di bawah berikrar di hadapan Tuhan dengan mengatakan, “Saya bersedia menikah dengannya.” Ia memandangi sang kekasih memakaikan cincin ke tangan wanita itu, kemudian memandangi mereka berciuman dengan mesranya, lalu mengalirlah air mata sedih sang kupu-kupu.
Dengan pedih hati Tuhan menarik napas, “Apakah kamu menyesal?” Sang kupu-kupu mengeringkan air matanya, “Tidak.” Tuhan lalu berkata disertai seberkas kegembiraan, “Besok kamu sudah dapat kembali menjadi dirimu sendiri.” Sang kupu-kupu menggeleng-gelengkan kepalanya, “Biarkanlah aku menjadi kupu-kupu seumur hidup.”
ADA BEBERAPA KEHILANGAN MERUPAKAN TAKDIR.
ADA BEBERAPA PERTEMUAN ADALAH YANG TIDAK AKAN BERAKHIR SELAMANYA.
MENCINTAI SESEORANG TIDAK MESTI HARUS MEMILIKI, NAMUN MEMILIKI SESEORANG MAKA HARUS BAIK-BAIK MENCINTAINYA.

Tata-cara penulisan nisan (bongpay) tradisional Tionghoa

17 Aug
Bongpay adalah bagian terpenting dari makam tradisional Tionghoa, namun sekilas berbeda2 dalam bentuk dan cara penulisannya sesuai dengan bentuk makam yang mempunyai sedikit perbedaan dari zaman ke zaman. Di masa Dinasti Tang, bongpay diletakkan di tengah2 makam dan biasanya ada dituliskan riwayat hidup (muzhiming) mendiang pemilik makam. Di zaman Dinasti Song, ada pahatan gambar pada bongpay.
Bentuk makam dengan bongpay di depan dan sistem penulisannya yang sekarang lumrah kita lihat adalah bentuk dan sistem penulisan mulai dari zaman Dinasti Ming dan diteruskan sampai sekarang sehingga kalau ditilik2 telah berumur lebih dari 600 tahun. Cara penulisan dan pembacaannya adalah dari kanan ke kiri dan atas ke bawah. Di bawah ini saya akan membahas sekilas tentang sistem dan susunan penulisan bongpay.
Bongpay yang umumnya kita lihat adalah terdiri dari 4 bagian, yaitu Baris Kanan, Baris Tengah, Baris Horizontal (Mata Bongpay) dan Baris Kiri :

  • Baris Kanan
Menuliskan masa dan waktu saat bongpay ini dibuat ataupun diperbaiki. Biasanya ditulis dalam tahun kekaisaran, tahun Tian Gan Di Zhi (tahun shio), musim atau bulan. Cara penulisan tidak akan saya ulas di sini karena banyak cara penulisan di masyarakat, namun harus mengikuti aturan (5n + 1) = 6, 11 karakter yang bermakna dan terpulang pada arti “Lahir” pada 5 karakter “Lahir, Tua, Sakit, Mati dan Derita”.
Satu contoh adalah bongpay yang dikirimkan salah satu member di sini beberapa bulan lalu, di mana bongpay leluhurnya dibuat pada musim gugur (sekitar bulan 9) tahun 1897 dituliskan menjadi “Guang Xi tahun 23, Ding You Shui (tahun shio ayam), musim gugur”. Ada pula yang menulis sampai kepada hitungan bulan.
  • Baris Tengah
Menuliskan tentang nama dan status selama hidup mendiang. Di zaman Dinasti Ming dan Qing, biasanya dimulai dengan 2 karakter Huang Ming atau Huang Qing, namun pada saat sekarang ini, biasanya langsung dimulai dengan 2 karakter Xian Kao atau Xian Bi yang artinya “Mendiang Ayah” atau “Mendiang Ibu”. Baris tengah ini lalu diakhiri dengan karakter Mu atau Zhi Mu yang artinya “Makam” atau “Yang Punya Makam”
Status dan kedudukan dalam masyarakat selama hidupnya juga boleh dituliskan di sini. Seperti gelar kesarjanaan yang didapat melalui ujian maupun sumbangan ke kekaisaran, ataupun pernah menjadi pejabat di daerah tertentu.
Jumlah karakter di sini harus menurut aturan (5n + 2) = 7, 12, 17, 22 karakter untuk memenuhi makna “Tua” pada 5 kata tadi.
  • Mata Bongpay
Mata Bongpay adalah baris yang horizontal yang biasanya hanya terdiri dari 2 karakter. Biasanya bertuliskan :
  • Daerah (kabupaten kuno) di mana marga atau keluarga mendiang berasal, misalnya marga Huang adalah Jiang Xia, marga Zhang adalah Qing He deelel.
  • Peristiwa besar mengenai marga atau keluarga mendiang, misalnya marga Jiang adalah Liu Gui dikarenakan sebagian keturunan marga Jiang adalah bersaudara kandung dengan marga Wang (bukan Wang raja), Weng, Fang, Gong, Hong sejak zaman Dinasti Sung. Marga Guo adalah Fen Yang, marga Lin adalah Wen Li deelel.
  • Jumlah generasi mendiang dalam silsilah keluarganya yang ditandai dengan karakter yang tidak sama namun berurutan setiap generasi membentuk suatu kata panjang yang mempunyai makna.
  • Kampung halaman, misalnya orang2 Tionghoa perantauan ada yang menuliskan tempat dari mana mereka berasal seperti Chao Zhou (Tio Chiu), Fu Zhou (Hok Chiu), Quan Zhou (Cuan Chiu) deelel.
  • Baris Kiri
Menuliskan siapa yang membuat bongpay tersebut yang biasanya adalah anak dan cucu mendiang. Ada yang menuliskan nama dari anak laki2 dan cucu dalam (anak dari anak laki2), ada pula yang cuma menuliskan beberapa karakter sebagai pengganti nama anak dan cucu dalam mendiang. Bagi yang tidak punya anak laki2 biasanya menuliskan dibuat oleh anak perempuan.
Jumlah karakter memenuhi aturan (5n + 1) karakter.
Demikianlah sekilas tata cara dan arti penulisan dari bongpay yang lumrah kita lihat dalam makam tradisional Tionghoa. Sekarang ini, di beberapa negara yang kekurangan lahan seperti Singapura, Taiwan, HK dan Makau, cara pemakaman yang dipopulerkan pemerintah adalah dengan kremasi dan kemudian ditempatkan dalam rumah abu. Di sini, setiap abu jenazah mempunyai bilik2 tersendiri dan bongpay-nya otomatis juga menjadi kecil sesuai kebutuhan.
Di zaman sekarang, tanggal atau masa dibuatnya bongpay seharusnya boleh ditambahkan tarikh Masehi guna memudahkan identifikasi buat anak-cucu. Juga tradisi mencatat hanya sampai pada bulan dapat diperdetil sampai kepada pencatatan hari dan tanggal.
Bongpay makam nenek saya adalah rancangan mendiang kakek yang masih mengikuti tata-cara lama yaitu mencatat biografi singkat di bagian dalam bongpay. Ini disebut muzhiming dan lumrah di zaman dulu, namun sayang, kakek saya belum sempat menulis sendiri biografinya karena keburu meninggal terserang stroke sehingga muzhiming-nya sendiri dikosongkan. Muzhiming ini biasanya disembunyikan di bagian dalam dari lapis luar bongpay yang bertuliskan karakter. Jadi bila ingin melihat muzhiming, lapis luar bongpay harus dikorek terlebih dahulu.
Bila ada waktu mengunjungi makam Kaisar Wuzetian, kaisar wanita satu2nya di dalam sejarah kekaisaran Tiongkok maka kita akan menemukan bahwa bongpay makamnya sengaja dikosongkan. Tujuan dari pengosongan ini karena Wuzetian ingin dituliskan biografinya oleh seorang sastrawan ataupun orang besar lainnya setelah kematiannya. Namun sayang, tidak ada yang berniat menuliskan kata2 pujian untuknya sehingga bongpay-nya tetap kosong hingga sekarang.

OPERATOR TELPHON BIKIN TERHARU

Waktu saya masih amat kecil, ayah sudah memiliki telepon di rumah kami. Inilah telepon masa awal, warnanya hitam, di tempelkan di dinding, dan kalau mau menghubungi operator, kita harus memutar sebuah putaran dan minta disambungkan dengan nomor telepon lain. Sang operator akan menghubungkan secara manual.
Dalam waktu singkat, saya menemukan bahwa, kalau putaran di putar, sebuah suara yang ramah, manis, akan berkata : "Operator". Dan si operator ini maha tahu.

Ia tahu semua nomor telepon orang lain!
Ia tahu nomor telepon restoran, rumah sakit, bahkan nomor telepon toko kue di ujung kota.

Pengalaman pertama dengan sang operator terjadi waktu tidak ada seorangpun dirumah, dan jempol kiri saya terjepit pintu. Saya berputar putar kesakitan dan memasukkan jempol ini kedalam mulut tatakala saya ingat .... Operator!!!

Segera saya putar bidai pemutar dan menanti suaranya.
" Disini operator..."
" Jempol saya kejepit pintu..." kata saya sambil menangis. Kini emosi bisa meluap, karena ada yang mendengarkan.

" Apakah ibumu ada di rumah ? " tanyanya.
" Tidak ada orang "
" Apakah jempolmu berdarah ?"
" Tidak , cuma warnanya merah, dan sakiiit sekali "
" Bisakah kamu membuka lemari es? " tanyanya.
" Bisa, naik di bangku. "
" Ambillah sepotong es dan tempelkan pada jempolmu..."

Sejak saat itu saya selalu menelpon operator kalau perlu sesuatu.

Waktu tidak bisa menjawab pertanyaan ilmu bumi, apa nama ibu kota sebuah Negara, tanya tentang matematik. Ia juga menjelaskan bahwa tupai yang saya tangkap untuk dijadikan binatang peliharaan , makannya kacang atau buah.

Suatu hari, burung peliharaan saya mati.
Saya telpon sang operator dan melaporkan berita duka cita ini.

Ia mendengarkan semua keluhan, kemudian mengutarakan kata kata hiburan yang biasa diutarakan orang dewasa untuk anak kecil yang sedang sedih. Tapi rasa belasungkawa saya terlalu besar. Saya tanya : " Kenapa burung yang pintar menyanyi dan menimbulkan sukacita sekarang tergeletak tidak bergerak di kandangnya ?"

Ia berkata pelan : " Karena ia sekarang menyanyi di dunia lain..." Kata - kata ini tidak tau bagaimana bisa menenangkan saya.

Lain kali saya telpon dia lagi.
" Disini operator "
" Bagaimana mengeja kata kukuruyuk?"

Kejadian ini berlangsung sampai saya berusia 9 tahun. Kami sekeluarga kemudian pindah kota lain. Saya sangat kehilangan " Disini operator "

Saya tumbuh jadi remaja, kemudian anak muda, dan kenangan masa kecil selalu saya nikmati. Betapa sabarnya wanita ini. Betapa penuh pengertian dan mau meladeni anak kecil.

Beberapa tahun kemudian, saat jadi mahasiswa, saya studi trip ke kota asal.
Segera sesudah saya tiba, saya menelpon kantor telepon, dan minta bagian "
operator "
" Disini operator "
Suara yang sama. Ramah tamah yang sama.
Saya tanya : " Bisa ngga eja kata kukuruyuk "
Hening sebentar. Kemudian ada pertanyaan : "Jempolmu yang kejepit pintu sudah sembuh kan ?"
Saya tertawa. " Itu Anda.... Wah waktu berlalu begitu cepat ya "
Saya terangkan juga betapa saya berterima kasih untuk semua pembicaraan waktu masih kecil. Saya selalu menikmatinya. Ia berkata serius : " Saya yang menikmati pembicaraan dengan mu. Saya selalu menunggu nunggu kau menelpon "

Saya ceritakan bahwa , ia menempati tempat khusus di hati saya. Saya bertanya apa lain kali boleh menelponnya lagi. " Tentu, nama saya Saly "

Tiga bulan kemudian saya balik ke kota asal. Telpon operator. Suara yang sangat beda dan asing. Saya minta bicara dengan operator yang namanya Saly.
Suara itu bertanya " Apa Anda temannya ?"
" Ya teman sangat lama "
" Maaf untuk kabarkan hal ini, Saly beberapa tahun terakhir bekerja paruh waktu karena sakit sakitan. Ia meninggal lima minggu yang lalu..."

Sebelum saya meletakkan telepon, tiba tiba suara itu bertanya : "Maaf, apakah Anda bernama Paul ?"
"Ya "
" Saly meninggalkan sebuah pesan buat Anda. Dia menulisnya di atas sepotong kertas, sebentar ya....."
Ia kemudian membacakan pesan Saly :
" Bilang pada Paul, bahwa IA SEKARANG MENYANYI DI DUNIA LAIN... Paul akan mengerti kata kata ini...."

Saya meletakkan gagang telepon. Saya tahu apa yang Saly maksudkan.

Jangan sekali sekali mengabaikan, bagaimana Anda menyentuh hidup orang lain.
Aku malu membaca tulisan ini, tapi aku bangga karena dapat menuliskannya kembali untuk Anda.

Tse Tse
Bocah itu Merawat Papanya yang Lumpuh


Tse Tse, begitulah biasa dia dipanggil. Tinggal di Desa Nantong, China bersama dengan kedua orang tuanya. Pada usia 6 tahun, usia yang masih tergolong anak-anak, dia sudah harus memikul tanggung jawab yang sangat berat. Berbeda sekali dengan anak-anak lain seusianya yang masih dapat bermain dengan bebas, merengek-rengek jika permintaannya tidak terkabul, dimanja-manja oleh orang tuanya. Inilah Tse Tse, seorang bocah yang mengalami nasib yang berbeda dengan anak-anak seusianya, dan patut diacungi jempol!
 
Lima tahun yang lalu Xiong Chun, ayah Tse Tse, tiba-tiba menderita penyakit yang menyebabkan ototnya menyusut hingga akhirnya dia menjadi lumpuh. Berbagai macam cara telah dilakukan hingga semua tabungan habis, namun penyakitnya masih belum sembuh juga. Dari leher ke bawah hingga ujung kaki tidak bisa digerakkan sehingga setiap hari kegiatan Xiong Chun hanya dihabiskan dengan berbaring dan duduk di atas kursi roda saja. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, istri Xiong Chun dengan giat bekerja dari pagi hingga malam di sebuah pabrik walau penghasilannya sangat pas-pasan.
 
Tidak seperti anak kecil lainnya yang masih dimanja-manja orang tuanya, Tse Tse justru harus memanjakan ayahnya yang lumpuh. Meski usianya yang masih bocah, dia sudah mengerti apa yang disebut sebagai tanggung jawab. Tidak pernah ada rengekkan yang keluar dari mulutnya. Setiap pagi begitu alarmnya berbunyi, Tse Tse akan segera bangun, cuci muka, dan sikat gigi. Setelah dia selesai, dia akan membantu ayahnya sikat gigi, cuci muka dan memijat tangan dan kaki ayahnya.


Pulang sekolah sore, Tse Tse langsung sibuk menyiapkan seember penuh air. Lalu ia memeras selembar handuk yang besar dengan tangannya yang mungil untuk menyeka wajah ayahnya. Butuh waktu sekitar 3 sampai 4 menit bagi Tse Tse untuk memeras handuk yang ukurannya jauh lebih besar daripada tangannya yang kecil itu, namun ia melakukannya dengan penuh perhatian. Begitu pula ketika ia menyeka wajah ayahnya, dia melakukannya seakan khawatir ada bagian wajah ayahnya yang kurang bersih. Setelah bagian wajah selesai diseka, ia melanjutkan ke bagian punggung, tangan dan juga kaki ayahnya. Tak lupa pula Tse Tse memijat tangan dan kaki ayahnya seusai itu.
 
Jika anak seusia Tse Tse digandeng oleh orang tuanya, Tse Tse justru dengan tubuhnya yang kecil akan menggandeng ayahnya, mendorong kursi rodanya ke mana-mana. Dia melakukan hal itu dengan segenap kesungguhan hatinya. Ketika hendak menyeberangi jalan, ia akan berhenti sejenak untuk menoleh ke kiri dan ke kanan, dan baru menyeberang setelah jalanan aman. Dan tidak jarang pula Tse Tse harus mengeluarkan tenaga ekstra ketika melewati jalanan yang tidak rata hingga wajahnya yang mungil itu terlihat kemerahan. Tidak pernah ada keluhan yang keluar dari mulutnya. Ia tetap tersenyum puas karena dapat membantu ayahnya.
 
Setiap hari mereka sekeluarga makan makanan yang sederhana saja. Hanya satu kali dalam seminggu mereka sengaja menyediakan lauk pauk yang lebih baik demi anak mereka, Tse Tse. Meski begitu, Tse Tse tidak pernah mementingkan diri sendiri, dia menyuapi ayahnya terlebih dahulu, baru kemudian dia akan memakan sisa lauk pauk yang ada. Dia lebih mementingkan kedua orangtuanya daripada dirinya sendiri. Untuk menambah penghasilan keluarganya, tidak jarang pula Tse Tse ikut dengan ibunya menjadi pemulung, mengorek-ngorek tempat sampah dan memungut botol-botol air bekas atau barang bekas lainnya untuk kemudian dijual kembali.
 
Tse Tse tidak pernah menuntut kepada orang tuanya karena dia sangat mengerti bahwa keluarganya memang hidup dalam kekurangan. Sebuah mobil-mobilan plastik yang dipungut dari tempat sampah, sudah menjadi barang yang amat berharga bagi dirinya. Tse Tse juga tidak pernah menunjukkan kesedihan dan ratapan terhadap nasib hidup keluarganya ini. Dia tetap ceria sebagai seorang bocah mungil, dan selalu riang menghadapi semua cobaan yang dibebankan kepadanya tanpa sedikitpun mengeluh. “Dia anak yang sangat pengertian, kami ikut merasa bangga kepadanya,” demikian komentar para tetangganya yang sangat menyayangi Tse Tse.
 
Mereka sekeluarga tinggal di rumah yang cuma terdiri dari sebuah ruangan yang hanya berukuran 8m2. Sebuah TV berukuran 21” yang tergantung di dinding rumahnya yang beratapkan seng adalah satu-satunya barang yang sangat istimewa bagi mereka. Tse Tse tidur di sebuah ranjang tingkat yang diatasnya dipenuhi dengan barang pecah belah sehingga hanya tersisa sedikit tempat bagi Tse Tse untuk membaringkan tubuhnya. Ada sebuah meja lipat yang tergantung di dinding rumahnya. Meja itulah yang Tse Tse gunakan sebagai meja belajarnya, sekaligus sebagai meja makan keluarganya.
 
Belajar adalah hal yang sangat disukai oleh Tse Tse. Pernah sekali orang tua Tse Tse bermaksud menghentikan Tse Tse dari sekolah karena kehidupan mereka yang sangat sulit, namun setelah Tse Tse mengetahui hal tersebut, Tse Tse langsung menangis. Dia tahu kalau mereka hidup dalam kekurangan, tapi dia tetap berkeinginan besar untuk dapat bersekolah. Tidak kuat melihat tangisan Tse Tse karena hal itu, orang tuanya langsung memeluknya dan berkata akan tetap mengusahakan agar dia tetap dapat bersekolah. “Saya percaya pasti akan sembuh, Tse Tse adalah harapan saya,” demikian kata sang Ayah.
 
Walau hidup dalam kemiskinan, semangat Tse Tse untuk dapat belajar tidak pernah padam. Dia tidak pernah melewatkan satu haripun untuk tetap belajar meski dengan peralatan sekolah yang seadanya. Begitu pulang sekolah, Tse Tse akan memindahkan meja kecilnya keluar rumah, dan segera menyelesaikan PR-nya ketika hari masih terang. Apa alasannya melakukan hal demikian? Mengapa dia tidak mengerjakannya pada malam hari saja? Untuk menghemat biaya listrik.
 
Tse Tse, seorang bocah 6 tahun, telah menunjukkan sikap yang benar-benar sangat Luar Biasa! Meski hidup dalam kesulitan, Tse Tse tetap menunjukkan baktinya kepada orang tua, semangat dalam belajar dan sikap pengertian yang Luar Biasa besar. Sikapnya yang tidak pernah mengeluh dan tetap ceria menghadapi kondisi hidupnya yang sangat memprihatinkan, telah menjadi pembangkit semangat bagi kedua orang tuanya dan siapa saja yang melihatnya. Dengan keceriaan dan ketegarannya, ia seolah sedang berkata kepada Ayahnya agar tetap bersemangat dalam sakitnya dan hidup dalam harapan dan keyakinan untuk bisa sembuh.
 
Tse Tse, memang hanya seorang bocah kecil. Akan tetapi, sikap baktinya dan semangatnya telah jauh melebihi usianya.


Sabtu, 17 September 2011

Taeyeon - I Love You (Athena ost.).mp3 - 4shared.com - penyimpanan dan berbagi-pakai file online - unduh - Taeyeon - I Love You (Athena ost.).mp3

Taeyeon - I Love You (Athena ost.).mp3 - 4shared.com - penyimpanan dan berbagi-pakai file online - unduh - <a href="http://www.4shared.com/audio/LoMB4sON/Taeyeon_-_I_Love_You__Athena_o.html" target="_blank">Taeyeon - I Love You (Athena ost.).mp3</a>

Jumat, 16 September 2011

== NASIB BURUK ATAU NASIB BAIK SIAPA YANG TAHU ==
Ada cerita dari Tiongkok ttg seorg petani tua, dia punya seekor kuda tua yg dipakai utk mengerjakan ladangnya.
Pada suatu hari kuda itu lari, menghilang di pegunungan ,& ketika semua tetangga petani itu menyatakan perasaan iba & kasih sayangnya thd petani tua yg bernasib malang itu, si petani menjawab dgn rendah hati & bijak " nasib buruk ? & nasib baik " siapa yg tahu ?
Seminggu kemudian si kuda tua itu kembali & malahan membawa kuda liar dari pegunungan & kali ini para tetangga mengucapkan selamat kpd petani krn nasib untungnya.
Kembali petani tua menjawab " nasib baik & nasib buruk siapa yg tahu "?               
Kemudian ketika anak lelaki petani mencoba menjinakkan satu dari kuda liar itu, ia terjatuh dari punggung kuda & patah kakinya.
Semua tetangga merasa kali ini si petani tua itu bernasib malang.
Tetapi tdk demikian si petani .
Tanggapannya hanya " nasib buruk & nasib baik ,siapa yg tahu "?       
Beberapa minggu sesudah itu bny tentara masuk desa tsb, mereka mendaftari semua org muda yg sehat badannya yg di temukan disana utk menjalani wajib militer ,ketika melihat anak petani yg patah kaki itu, maka ia di lepaskan.
Apakah itu nasib baik ? Atau nasib buruk ? Siapa yg tahu ?   
Pesan Moralnya ;
Setiap hal yg di luar nampaknya buruk, bisa saja jadi sesuatu kebaikan yg terselubung dan setiap hal yg nampaknya baik di luar, bisa saja jd kenyataan yg buruk.
Maka dari itu kita seharusnya kita bisa bertindak bijaksana, Tidak Menggerutu pada sa’at mengalami hal2 yg dianggap Tidak Baik dan Tidak Bergembira secara berlebihan bila mendapati hal2 Baik terjadi dalam hidup kita.
Karena semua Rezeki dan Kemalangan itu bisa saja menimpa siapa saja , mana nasib baik & mana nasib buruk tak ada yang tahu .
Tetapi Tetap bisa bersyukur adalah hal yang terbaik , bahwa segala sesuatu bisa jadi akan menjadi baik bagi mereka yang bisa mensyukuri semua Karunia dan Anugrah.
=====